Pages

Selasa, 15 Oktober 2013

DARI MASA KE MASA

MENGENAL PARA PEMIMPIN PEMERINTAHAN SIKKA

Sejak awal terbentuknya Kerajaan Sikka, yaitu kira-kira pada tahun 1607, pusat pemerintahan ber¬markas di kampung Sikka, di istana " LEPO GETE" (Kini di atas reruntuhan istana LEPO GETE itu, Pemerintah Kabupaten Sikka membangun kembali Rumah Adat itu pada tahun 2000 dengan biaya Rp 100 juta, untuk melestarikan sejarah, budaya dan sekaligus menjadi obyek wisata).
Terkecuali Raja SIKU KORUN DA CUNHA (sekitar tahun 1800) dan Raja PRISPIN DA CUNHA (1850) yang inenetap di Maumere.
Ketika Raja Sikka DON ANDREAS JATI XIMENES DA SILVA memegang kekuasaan (1871-1898), beliau secara resmi menerima kedatangan Misionaris pertama asal Belanda, P.C. OMZIGHT SJ, pada tahun 1873 di Maumere.
Demikian pula dalam masa pemerintahannya itu, Pemerintah Belanda untuk pertama kalinya membenum seorang "Posthouder" pada tanggal 24 Agustus 1879 di Maumere. Posthouder G.A.VAN SIEK itulah yang menyarankan agar Raja Sikka sebaiknya selalu berada di Maumere. Sebab ketika itu Maumere sudah ramai sekali sebagai tempat pertemuan para pedagang dad berbagai jurusan. Termasuk para pedagang Cina yang mulai membuka toko-toko dengan menjual serba macam barang dagangan. Kehadiran raja sangat diperlukan untuk mengelola penyelenggaraan pemerintahan, mengatur ketertiban umum, mendistribusikan tanah, pengamanan daerah pelabuh¬an dan lain sebagainya.
Saran yang baik itu sangat menarik perhatian sang Raja Sikka. Secara bertahap mulai diarahkan rencana dan perhatian untuk memindahkan ibukota Kerajaan Sikka ke Maumere. Akan tetapi barn pada tanggal 26 Pebruari 1894 dipancangkanlah tiang pertama bangunan istana Raja Sikka itu di Maumere. Danpada tanggal 8 Maret 1894 diselenggarakan suatu pesta rakyat yang marak meriah dengan acara main dadu dan sabung ayam selama seminggu sebagai tanda peresmian pembangunan istana itu (di atas puing istana Raja Jati itu sekarang berdiri bangunan rumah dua bersaudara sekandung keturunan Raja Sikka, MIKHAEL DA SILVA dan RAFAEL DA SILVA). Namun demikian, Raja Sikka masih tetap saja berdiam di kampung Sikka. Beliau datang ke Maumere hanya sesewaktu apabila perlu atau diminta Posthouder.
DON JOSEPHUS NONG MEAK DA SILVA dinobatkan menjadi Raja Sikka ke-14 pada tahun 1903. Pada mulanya beliau menetap di kampung Sikka, dan barn pada tahun 1918 (tanggal dan bulan tidak tercatat), beliau mengambil keputusan untuk memindah¬kan ibukota pemerintahan Kerajaan Sikka ke Maumere (versi lain menyebutkan kepindahan itu terjadi tahun 1917, menurut tulisan P.S. DA CUNHA dalam surat khabar Mingguan "BENTARA" Ende edisi tanggal 15 Juni 1954).
Raja NONG MEAK membangun istananya, yang disebut oleh masyarakat setempat sebagai "Oring Sirat", di lokasi yang sekarang sudah berdiri bangunan Losmen Lareska, sedangkan bangunan kantor pemerintahan Kerajaan Sikka (Landschaap Sikka) terletak di Kompleks Lapangan Tugu (sementara ini sudah menjadi lokasi sakral Patung "KRISTUS RATU ITANG").
Sampai dengan tahun 1944, Raja Sikka DON THOMAS terus melanjutkan pembangunan Kota Mau-mere, antara lain pasar, toko, jalan-jalan, rumah para pegawai, perkampungan penduduk, termasuk memba¬ngun istana kediaman Raja Sikka.
Raja Sikka DON THOMAS inilah yang patut ditokohkan sebagai putra daerah peletak dasar dan pemikir mula, awal modernisasi pembangunan kota Maumere. Konsepnya ini mulai dikembangkan semenjak beliau memangku jabatan Raja Sikka pada tahun 1920 hingga ajal menjemputnya pada tanggal 18 Mei 1954 di Ende. Lebih-lebih pada tahun-tahun awal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Gagasannya yang cemerlang dan karya dengan kerja keras yang tidak kenal lelah, kini dilanjutkan oleh para penerima tongkat estafet kepemimpinannya dalam tampuk pemerintahan para Bupati Kepala Daerah Otonom Tingkat II Sikka sejak tahun 1960.


Sejarah pemerintahan kabupaten ini mengalir dari zaman kerajaan yang berakhir pada masa pemerintahan raja Don Thomas (1954), kemudian dilebur menjadi Swapraja Sikka pada tahun 1953 dengan kepemimpinan kolegial oleh Dewan Pemerintahan Daerah Swapraja (DPDS). Masa keswaprajaan hanya berlangsung enam tahun dan berakhir pada tahun 1959 ketika terbentuknya Pemerintahan Daerah Swatantra (Daswati) II Sikka berdasarkan UU No.1 Tahun 1957 tentang Pemerintahan Daerah.
Pemerintah Pusat menunjuk Don PCX da Silva, raja Sikka terakhir sebagai Pejabat Sementara Kepala Daerah menyusul pembentukan DPRD Peralihan Daswati II Sikka tahun 1959.


*PAULUS SAMADOR DA CUNHA*
(1960-1967)
Lahir di Sikka, 13 januari 1924. Politikus dari Partai Katolik, mantan anggota DPD Flores dan mantan anggota Konstituante (1956-1959), adalah seorang pamong praja yang tekun dan bersahaja.
Dalam masa jabatan kebupatiannya, pemerintah daerah masih sangat sulit dengan dana, kemampuan sumber daya manusia terbatas, potensi sumber daya alam pun belum dikelola, apalagi situasi politik, ekonomi dan keuangan Negara sama sekali tidak mendukung.
Namun beliau merintis pembukaan kawasan untuk lahan pertanian di Magepanda, Waigete dan Nebe sebagai wilayah produksi pangan dengan menggunakan tenaga kerja dari Tebuk dan Koting. Desa “gaya baru” yang merupakan konsep perubahan dari sistem pemerintahan kampung digelarnya secara gencar di seantero kabupaten ini.
Ia juga membentuk tujuh kecamatan dengan menghapus sistem pemerintahan Haminte (1962-1964). Ia mengangkat kegemaran rakyat akan lagu dan tarian daerah, seni budaya dikembangkan, olahraga dibina dan belis diseminarkan.
Konseptor pembangunan Gelanggang Olahraga Madawat (kini Gelora Samador) ini tidak lupa mengandalakan pemuda sebagai potensi pembangunan, dan oleh karena itu ia berhasil menyiapkan kader-kader pemimpin masa depan.
Beliau meninggal dunia di Kupang tanggal 19 September 1970, ketika sedang bertugas sebagai pejabat tinggi di Kantor Gubernur NTT.


*LAURENSIUS SAY*
(1967-1977)

Bupati kedua ini lahir di Umauta-Bola, 2 Februari 1924. Veteran Pejuang Angkatan 1945 dan mantan anggota MPRS-RI 91960-1966) ini adalah seorang pemimpin yang berwatak keras, pragmatis, ekonom dan demokrat.
Alumi Schakelschool Ndao-Ende ini, sukses sebagai bupati dalam membina keswadayaan masyarakat melalui program pengembangan partisipasi pembangunan, antara lain pembangunan Pasar Maumere (1968) dan tambak ikan banding Koliaduk (1969).
Dengan bekal sekolah pertanian di Bogor, pengalamannya di Inggris (1945) dan sebagai wakil Pemerintah Indonesia dalam Badan Kerja Sama Industri Perkelapaan Philipina-Indonesia (PICC) di Manila (1963-1965), Laurens Say berhasil memasyarakatkan program lamtoronisasi dan menggalakkan penanaman kakao, kopi dan cengkeh dalam kerja sama dengan Biro Sosial Maumere, lembaga sosial ekonomi Gereja Katolik setempat (PH Bollen,SVD/Biro Sosial Maumere).
Bupati Laurens Say juga mengembangakan perkoperasian melalui wadah KUD seturut program nasional.
Ia membuka jalan ke berbagai desa terpencil guna menerobos keterasingan dan ketertutupan masyarakat dari arus ekonomi, akses pendidikan, kesehatan, pariwisata dan sejumlah sektor lainnya.
Anggota DPR/MPR-RI 1977-1982 ini ditunjuk oleh Uskup Agung Ende menjadi Ketua Umum Panitia Perayaan Nasional Tahun Maria di Maumere (Juli 1988). Sebelum meninggal dunia beberapa waktu lalu, Laurens Say melewati masa tuanya di Jalan Kesehatan Maumere.


*DRS. DANIEL WODA PALE*
(1977-1988)

Kepemimpinan Kabupaten Sikka selanjutnya beralih ke tampuk Drs. Daniel Woda Pale. Ia lahir di Paga, 9 Juli 1939, putra mosalaki Donatus J Pale, mantan anggota DPDS Sikka.
Pegawai negeri bergelar sarjana ilmu pemerintahan jebolan IIP Malang (1974) ini, adalah seorang pamongpraja karier yang energik, dinamis dan menyimpan segudang cita-cita besar untuk Sikka. Ia pernah menjadi Camat Maumere (1962-1964) dan Sekwilda Sikka (1968-1970 dan 1974-1977).
Dengan bangga ia meneruskan karya para pendahulunya, khususnya program lamtoronisasi dan pola pertanian lahan kering. Ia memilih mangga sebagai tanaman holtikultura yang digemari rakyat untuk dikembangakan menjadi makanan bergizi selain sebagai komoditas perdagangan.
Pada zamannya ia mengangkat sektor perikanan ke permukan dan mulai dengan pengembangan industri pariwisata. Kebupatiannya menjadi lebih berbobot ketika fasilitas Pelabuhan Maumere diperluas dan kemampuan daya sandar kapal ditingkatkan, serta pembangunan Depot Pertamina dan SPBU.
Mengatasi masalah kepadatan penduduk, sejumlah rakyat Sikka ditransmigrasikannya ke Irian Jaya, Kalimantan dan Sulawesi sesuai program nasional. Ketika memegang tongkat kepemimpinan ini, Kabupaten Sikka menerima tanda kehormatan Parasamya Purnakarya Nugraha, lambang supremasi keberhasilan pembangunan tingkat nasional pada Pelita III di bidang koperasi dan penghijauan (1979-1984).
Pada puncak masa pengabdiannya, Daniel Woda Pale menduduki posisi strategis dalam jajaran pemerintahan di Propinsi NTT tahun 1989-2004. Terakhir ia menjabat Ketua DPRD Propinsi NTT (1999-2004).
Politisi kawakan ini ditunjuk menjadi Ketua Umum Panitia Penyambutan Kunjungan Pastoral Sri Paus Johanes Paulus II di Maumere pada bulan Oktober tahun 1989. Kini sebagai pensiunan pejabat Negara, Daniel Woda Pale kembali ke kota kecintaanya, Maumere.

*DRS. AVELINUS MASCHUR CONTERIUS*
(1989-1993)
Putera asal Lela ini, lahir di Paga tanggal 18 Mei 1942. Sarjana Ilmu Pemerintahan lulusan IIP Jakarta ini pernah menjadi Sekwilda Kabupaten Alor.
Ia juga meneruskan karya para pendahulunya secara menonjol dalam sektor perikanan, kepariwisataan dan transmigrasi. Dengan tekun Bupati Conterius merencanakan dan melaksanakan program pembukaan, perluasan dan peningkatan ruas jalan raya ke kawasan terpencil yang potensial.
Dalam bidang komunikasi, ia tampil greget dengan membangun Stasiun Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD), meski harus menghabiskan biaya ratusan juta rupiah. Namun ia berhasil merengsek PAD APBD II Sikka dari sekitar 500 juta dimasa Bupati Dan Woda Pale menjadi Rp.1 miliar setiap tahunnya.
Ia merangkum kerja sama antar KUD dengan Asosiasi Wiraswasta, meski konsep kerja itu dikritik habis-habisan oleh banyak kalangan.
Prestasinya untuk membenahi dan memberdayakan potensi aparatur pemerintah daerah serta menggalakkan program pendidikan jejang karier kepegawaian, patut diberikan ancungan jempol.
Ia membentuk kecamatan Alok, peralihan dari KOPETA Maumere, dan desa menjadi kelurahan, dari 5 menjadi 13 kelurahan. Ia bernasib mujur, karena dalam masa jabaannya, di Maumere berlangsung peristiwa akbar Perayaan Nasional Tahun Maria 1988 yang dihadiri ribuan umat Katolik dari 33 keuskupan di Indonesia pada bulan Juli 1988.
Perayaan kunjungan Pastoral Sri Paus Johanes Paulus II dalam bulan Oktober 1989, saat kepemimpinannya teruji untuk menyukseskan perayaan agung itu.
Dua peristiwa tersebut telah mengangkat popularitas Kabupaten Sikka ke atas pentas Nasional dan Internasional.
AM Conterius meninggal dunia di Kupang tanggal 4 Oktober 1994 dalam usia 52 tahun, setelah lebih dari setahun menjadi pejabat di kantor Gubernur Propinsi NTT.
Tongkat estafet kepemimpinan kemudia disambut dengan optimisme oleh Alexander Idong ditengah ambruknya sarana dan prasarana akibat gempa tektonik dan hempasan tsunami Desember 1992. Ia terpilih sebagai Bupati Sikka yang kelima.


*ALEXANDER IDONG*
(1993-1998)
Lahir di Nele, 13 April 1941. Meski hanya jebolan KDC Kupang (1962), ia pernah menjadi Camat Maumere (1964-1974), dan menjabat Kepala Kantor Sensus dan statistic Kabupaten Sikka selama kurang lebih 20 tahun, sambil menangani program transmigrasi nasional pada masa kebupaian Drs. Daniel Woda Pale dan Drs. AM Conterius.
Bendahara DPD II Golkar Sikka (1988-1993) ini terpilih menjadi Ketua DPRD II Sikka (1992-1993), dan kemudian terorbit menjadi Bupati Sikka. Ia naik ke puncak karier politiknya dalam jabatan ini sebagai “bupati gempa”.
Tugas utamanya adalah membangun kemabli puing-puing reruntuhan dari semua bangunan yang diporak-porandakan oleh gempa bumi dan gelombang tsunami dasyat 12 Desember 1992 (sekolah, rumah sakit, puskesmas, kantor dan rumah diam kedinasan serta fasilitas umum seperti pasar, stadion, jaringan listrik dan air minum, dan sebagainya).
Bupati Alex Idong-lah yang berjuang membebaskan bidang tanah rakyat dengan dana APBD II Sikka untuk perpanjangan landasan pacu bandara Waioti dan perluasan jalur/ruas jalan dalam kota Maumere.
Ia menyiapakan konsep pemekaran desa-desa. Dalam masa kebupatiannya, RSUD dr. TC Hillers yang dibangun dengan dana APBN sebesar 10 miliar (1996-1997) mulai dioperasikan. Ambisinya membangun, mendorong kerja keras untuk merengsek PAD Kabupaten Sikka menjadi Rp 2,2 miliar TA 1997/1998.
Ia juga mengejar prestasi dalam upaya peningkatan produksi dan pemasaran jambu mente dan menarik investor untuk beroperasi di kabupaten ini.
Setelah tidak terpilih lagi pada suksesi tahun 1998, ia kembali ke kampung kelahirannya dan tinggal di Nara, Desa Lepolima, Kecamatan Maumere.


*DRS. PAULUS MOA*
(1998-2003)
Lahir di Ian-Wolokoli, Kecamatan Bola, 10 September 1940. Sarjana ilmu pemerintahan jebolan IIP Jakarta (1978) ini, pernah menjadi Camat Bola (1964-1966) dan Camat Nimboran, Jayapura, Iarian Jaya (1973). Kemudian menempati jabatan strategis dalam jajaran pemerintah daerah Timur-Timur (1979-1998) sebagai Pendamping Bupati Viqueque, sekwilda Bobonaro, Kota Administratif Dili, Manufahi dan Liquisa.
Memantapkan tugas kebupatinnya (1998-2003) dengan Sapta Program menyangkut kualitas SDM, pengentasan kemiskinan, kualitas lingkungan hidup dan tata ruang, pemanfaatan lahan pertanian, pengembangan agrobisnis dan agroindustri, peningkatan program koperasi dan pembangunan pariwisata.
Ia berhasil menaikkan PAD APBD Sikka dari 2,2 miliar pada masa Bupati Alex Idong (1997) menjadi 7 miliar pada TA 2002. Meneruskan program rehabilitasi pasca gempa tsunami 1992, dan membangun taman-taman kota yang menelan biaya sekitar Rp.1 miliar. Ia membangun kembali istana Lepo Gete di Kampung Sikka sebagai lambang kebanggaan sejarah dan budaya untuk menjadibsatu lokasi tujuan wisata budaya.
Dijalinnya kerjasama dengan Ausaid untuk program pelestarian taman laut, terumbu karang dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Begitu pun kerja sama dengan UNICEF untuk program ASI (kesejahteraan ibu dan anak dalam sektor kesehatan) dan dengan GTZ untuk program kebersihan lingkungan.
Masa kebupatiannya masuk dalam hari-hari awal reformasi setelah Orde Baru, sehingga ia terus menerus menghadapi gelombang demonstrasi dalam berbagai masalah kerakyatan, mulai dari penjual sayur, tukang ojek sampai topic-topik politik yang rumit, seperti masalah pengungsi Timor-Timur, masyarakat adapt, perbatasan kawasan hutan, kenaikan harga sembako dan BBM, serta turunnya harga komoditi.

Usai jabatan bupati, ia menjadi anggota DPRD Propinsi NTT dari partai Golkar hasil Pemilu 2004 dengan jumlah perolehan suara melampaui Bilangan Pembagi Pemilu (BPP). Kini Drs. Paulus Moa menjabat Wakil Ketua DPRD Propinsi NTT, tinggal di Kupang.

*DRS. ALEXANDER LONGGINUS*
(2003-2008
)
Tanggal 25 Januari 1960 merupakan tanggal kelahiran Alexander Longginus, tepatnya di Riit-Nita. Politisi muda jebolan “sekolah” Bung Kanis dan aktivis LSM yang kerap dipanggil Allong ini, pernah bergumul dalam hidup keseharian sebagai petani, peternak, petambak ikan, pemasak minyak kelapa, pembakar batu merah, papalele kopra, guru dan manager hotel, sebelum naik ke kursi nomor satu Kabupaten Sikka.
Fungsionaris PDI, kemudian PDI Perjuangan ini berambisi membangun kabupaten ini dengan memancang tonggak perubahan masyarakat Sikka “moret epang” (hidup makmur:bah.Sikka-red.) dengan filosofi GEMBIRA (Gerakan Membangun Berbasis Inisiatif Rakyat).
Ia merencanakan tiga program utama : Peningkatan Kualitas SDM, Pemberdayaan Ekonomi Rakyat dan Kerja Sama Kemitraan yang efektif. Implementasi program itu tahap demi tahap mulai dilaksanakan, antara lain menyusun data base menyangkut potensi desa dan tingkat kesejahteraan/kemiskinan rakyat, mendirikan sebuah Universitas Daerah (UNIPA), melaksanakan desentralisasi fiscal sebagai upaya membangun kesadaran, merangsang tanggung jawab dan memacu keswadayaan masyarakat desa, mengendalikan kebijakan keuangan daerah secara ketat, meneruskan konsep Bupati Paulus Moa untuk membangun sebuah SPBU (kerja sama dengan Pertamina). Bupati Allong juga membangun jaringan kerja sama Flores-Portugal, meneruskan program pelestarian terumbu karang dan upaya peningkatan haja hidup masyarakat pesisir melalui program COREMAP.
Sebagai seorang “kampung”, non birokrat, ia harus berenang di engah arus kuat birokrasi yang sudah mapan. Semua kebijakan terobosan ini telah menjadi komoditas politik yang mahal harganya, karena lebih sering sarjana Administrasi Niaga Undana ini “diadili” oleh berita serta isu-isu yang bertebaran di tengah masyarakat; telah banyak suara dilansir dengan gaya kurang pas dengan tata karma dan etika politik.
Terus menerus Pemerintah dan DPRD Sikka dibombardir oleh demonstrasi-demonstrasi yang beruntun dilancarkan dengan cara-cara yang kurang simpatik atas nama demokrasai atau reformasi. Demikianlah konsekuensi politik yang mesti dipikul guna mencapai konsep perubahan yang transparan.

*DRS. SOSIMUS MITANK*
" MEMBANGUN MULAI DARI DESA"
(1998-2003)

Nama: Drs. Sosimus Mitang
- Tempat/Tgl: Maumere, 22 November 1950
- Alamat: Jalan Nairoa, Lokaria-Maumere
- Agama: Katolik
- Nama istri: Firmina Sedo
- Anak: Satu orang
- Pendidikan: FIA Undana Kupang, 1983

* Pengalaman kerja
- Kepala Sub Bagian Bina Perangkat Desa dan Kelurahan pada Biro Pemerintahan Desa Setwilda NTT di Kupang, 1 Oktober 1982-23 Oktober 1986.
- Kepala Cabang Dinas Pariwisata NTT Wilayah III meliputi Kabupaten Alor, Flores Timur, Ende dan Sikka di Maumere dari 23 Oktober 1986-25 Juni 1991.
- Kepala Dinas Perhubungan dan Promosi Daerah di Jakarta, 25 Juni- 16 Maret 1994.
- Kepala Dinas LLAJR Sikka, 16 Maret 1994- 21 April 1998.
- Kepala Dinas Pariwisata Sikka, 21 April 1998- 8 Desember 1998.
- Ketua Bappeda Sikka, 8 Desember 1998-22 Februari 2001.
- Pj. Asisten Administrasi Kabupaten Sikka, 22 Februari 2001-20 November 2002.
- Kepala BKD Kabupaten Sikka, 20 November 2002-13 Desember 2003.
- Kepala Badan Kesbanglinmas Sikka, 13 Desember 2003-27 Agustus 2005.
- Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka, 27 Agustus 2005-31 Desember 2006.








Tidak ada komentar: